Peran Akuntansi Manajemen Dalam Perusahaan
Peran
akuntansi manajemen sebagai sistem pengolah informasi keuangan dalam perusahaan
dibagi menjadi tiga tingkat perkembangan: pencatat skor (score keeping), penarik perhatian manajemen (attention directing), dan penyedia informasi untuk pemecahan
masalah (problem solving).
Pencatat
skor
Dalam
pengelolaan perusahaan, manajemen melakukan pencatatan aktivitas dan
pengendalian pelaksanaan rencana aktivitasnya. Akuntansi manajemen berperan
dalam menyediakan informasi keuangan bagi penyusunan rencana aktivitas, yang
memberikan informasi sebagai dasar untuk mengalokasikan sumber daya kepada
berbagai aktivitas yang direncanakan. Akuntansi manajemen juga berperan besar
dalam menyajikan informasi umpan balik kepada manajemen mengenai pelaksanaan
aktivitas rencana yang aktivitas yang telah disusun. Akuntansi manajemen
mencatat skor dan mengkomunikasikan skor kepada manajer yang bersangkutan untuk
memungkinkan manajemen mengevaluasi pelaksanaan rencana yang telah disusun.
Untuk memenuhi
fungsi untuk mencatat skor bagi manajemen, akuntansi manajemen harus memenuhi
persyaratan: teliti, relevan, dan handal (reliable).
Ketelitian pencatatan skor setiap manajer merupakan syarat mutlak, karena
informasi yang disajikan kepada manajemen akan digunakan untuk mengevaluasi
kinerja mereka. Setiap orang yang diukur kinerjanya akan peduli (concern) terhadap unsur-unsur yang
digunakan untuk mengukur kinerjanya. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi
seandainya biaya yang seharusnya menjadi
beban departemen lain, oleh Bagian Akuntasi keliru dibebankan oleh
departemen tertentu, padahal setiap
manajer departemen akan dinilai oleh manajer atasannya dari efisiensi biaya
yang dicapai oleh setiap departemen.
Relevansi
informasi dengan keputusan yang akan dilakukan oleh pemakai informasi
dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan oleh akuntan manajemen dalam
mengolah data akuntansi. Dalam sejarah perkembangannya, akuntansi manajemen
menempuh dua pendekatan dalam pengolahan informasinya: the historical communication approach dan the user dicision model approach. Dalam the historical communication
approach, akuntansi manajemen bertujuan menghasilkan informasi historis
yang unik untuk memenuhi segala macam tujuan. Dalam pendekatan ini, akuntansi
manajemen didominasi oleh pengumpulan dan penyajian secara teliti informasi
biayayang telah terjadi di masa lalu, dan pemakai laporan dipersilahkan
melakukan penyesuaian (adjustment) terhadap informasi akuntansi yang
diterima sesuai dengan kebutuhannya. Di lain pihak, dalam the user dicision model approach, akuntansi menajemen berpusat pada
keputusan-keputusan yang potensial akan dipengaruhi oleh informasi akuntasi.
Pendekatan ini menekankan tema: “biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda”
atau bagaimana informasi akuntasi memberikan kemudahan kepada pengambilan
keputusan intern perusahaan dalam melakukan pemlihan alternatif secara ekonomis
rasional. Pendekatan terakhir ini menggunakan rerangka (framework) berfikir: pengambilan keputusan menghadapi pilihan
tindakan dalam situasi tertentu; akuntansi manajemen menyediakan informasi
akuntasi yang relevan dengan keperluan pengambilan keputusan, untuk mempermudah
pemilihan alternatif yang akan dilakukan oleh pengambil keputusan. Dalam
menyediakan informasi ini, akuntansi manajemen berperan sebagai spesialis
informasi yang menggunakan pendekatan biaya-manfaat (cost-benefit) dalam pemilihan sistem informasi yang menghasikan
informasi untuk kepentingan pengambil keputusan. Dalam the user decision model approach ini, akuntan manajemen di samping
mempertimbangakan relevansi informasi dengan alternatif yang dipertimbangkan
dengan pengambil keputusan, juga mempertimbangakan biaya dan manfaat informasi
tersebut.
Agar akuntasi
manajemen dapat berfungsi sebagai pencatat skor, skor yang dicatat dan
disajikan harus mencerminkan kinerja yang digmbarkan dalam skor tersebut.
Relevansi pencatatan skor akan dicapai jika pencatat skor memahami aktivitas
yang dilakukan oleh manajemen. Dengan demikian informasi yang direkamnya
benar-benar mencerminkan kinerja yang dicapai oleh setiap manajer dan sesuai
dengan keperluan pengambil keputusan.
Untuk
dapat berfungsi sebagai pencatat skor yang baik, keandalan adalah attribute lain yang harus dimiliki oleh
informasi akuntansi manajemen. Sebagai pencatat skor, informasi akuntasi
manajemen harus bebas dari kecendrungan penyusunnya untuk memihak. Jika manajemen
yang diukur kinerjanya menduga fungsi akuntansi memihak kepada manajer tertentu
dalam menyajikan laporannya, informasi akuntansi yang tercantum di dalamnya
akan bernilai rendah, dipandang dari persepsi para pemakainya.
Penarik
Perhatian
Jika
akuntansi manajemen sudah mendapat status sebagai pencatat skor yang baik,
tahap perkembangan berikutnya adalah sebagai penarik perhatian manajemen.
Sebagai penarik perhatian manajemen, akuntansi menyajikan informasi
penyimpangan pelaksana rencana yang memerlukan perhatian, agar manajemen dapat merumuskan tindakan untuk
mencegah berlanjutnya penyimpangan yang terjadi. Tahap perkembangan ini hanya
dapat dicapai jika akuntansi manajemen telah dapat menjadi pencatat skor yang
baik. Jika informasi akuntansi manajemen dihasilkan oleh akuntan yang tidak
memahami manajemen (sehingga skor tersebut tidak mencerminkan kinerja manajemen) atau tidak dapat
diandalkan karena tidak adanya integritas akuntan manajemen yang menyusunnya,
informasi akuntan manajemen tidak dapat berfungsi sebagai penarik perhatian
manajemen. Siapa yang akan memalingkan perhatiannya keinformasi akuntansi, yang
disamping tidak teliti, tidak relevan, juga tidak dapat diandalkan?
Penyedia
Informasi untuk Pemecah Masalah
Tahap
perkembangan ini merupakan akibat lebih lanjut dari status perkembangan yang
sebelumnya telah tercapai, yaitu sebagai
pencatat skor dan sebagai penarik perhatian. Jika manajemen telah mengandalkan
informasi yang dihasilkan oleh akuntan manajemen, maka mereka akan selalu
mengundangnya dalam setiap pengambilan keputusan pemecahan masalah yang akan
mereka lakukan. Manajemen selalu manghadapi ketidakpastian manakala meraka
menghadapi masalah yang harus diputuskan pemcahannya. Untuk mengurangi
ketidakpastian ini, manajemen memerlukan informasi, diantaranya informasi
akuntansi. Untuk informasi akuntansi ini, manajemen akan berpaling kepada
akuntan manajemen untuk mengurangi ketidakpastiannya. Jika informasi akuntan
manajemen tidak tersedia atau tidak teliti, tidak relevan, dan tidak dapat
diandalkan, maka manajemen akan berpaling ke manajemen nonakuntansi untuk
mengurangi ketidakpastiannya. Atau jika manajemen tidak memahami bahasa
akuntansi, sehingga keputusan-keputusannya akan didasarkan atas informasi
nonakuntansi. Dengan demikian manajemen yang mendasarkan keputusan-keputusannya
tidak berdasarkan informasi akuntasi, mutu keputusannya tidak bersifat ekonomis
rasional. Hal ini terjadi sebagai akibat dari tidak adanya bahasa akuntansi
yang dapat dipakai oleh manajemen untuk berpikir. Dalam situasi semacam ini
akuntansi manajemen tidak akan merupakan anggota tim manajemen yang diajak
duduk bersama dengan manajemen lain dalam memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi perusahaan.
Persamaan akuntansi adalah persamaan untuk menggambarkan
hubungan antara elemen-elemen dalam laporan keuangan. Elemen-elemen
laporan keuangan yang utama ada 5, yaitu aset, kewajiban, ekuitas,
pendapatan, dan beban. Ketiga elemen laporan keuangan yang pertama
(aset, kewajiban ekuitas) berada di laporan laporan posisi keuangan
(dulu dikenal dengan nama "neraca"). Kedua elemen berikutnya (pendapatan
dan beban) berada di laporan laba rugi (dulu dikenal dengan nama
"laporan rugi laba").
Pengakuan transaksi lebih mudah dilakukan apabila pengguna memahami
persamaan akuntansi.Persamaan
akuntansi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu
persamaan akuntansi dasar dan persamaan akuntansi ekstensi. Persamaan
akuntansi dasar sangat sederhana, yaitu
"Aset = Liabilitas + Ekuitas".
Sementara itu, persamaan akuntansi ekstensi ada 2, yaitu persamaan
akuntansi perspektif sejarah dan perspektif IFRS.
Persamaan akuntansi
ekstensi perspektif sejarah adalah "Aset + Beban = Liabilitas + Ekuitas +
Penghasilan". Persamaan akuntansi ekstensi perspektif IFRS adalah "Aset
= Liabilitas + Ekuitas + (Penghasilan - Beban)".
PERAN AKUNTAN MENEJEMENT DALAM PERUSAAHAAN
Akuntan
manajemen di Perusahaan tidak hanya terbatas personil yang
bekerja
di Unit Kerja Akuntansi (disebut Biro Akuntansi), namun juga
ditempatkan
secara formal di unit kerja lain yang masih relevan atau bahkan
ditempatkan
di unit kerja yang kurang relevan tetapi sangat membutuhkan
dukungan
ilmu akuntansi.
1.
Fungsi Internal Audit
Untuk
membantu manajemen khususnya Direktur Utama dalam
mengawasi
dan mengendalikan jalannya perusahaan, diperlukan peran
akuntan
manajemen sebagai internal auditor (disebut Satuan
Pengawasan
Intern). Akuntan manajemen sebagai internal auditor
melakukan
pengawasan keuangan Perusahaan secara
menyeluruh.
Akuntan Manajemen melakukan pengawasan operasional
berupa
compliance test terhadap peraturan dan sistem prosedur yang
berlaku
dalam semua kegiatan operasional perusahaan.
2.
Fungsi Accounting
Akuntan
manajemen yang bekerja di unit kerja akuntansi tentu saja
menemukan
peran utamanya dalam mengimplementasikan ilmu
akuntansi
yang diperolehnya selama kuliah. Akuntan manajemen dapat
berperan
sebagai pengolah data transaksi dan kejadian untuk
menghasilkan
informasi dalam bentuk laporan keuangan standar
sebagaimana
yang dipersyaratkan dan diberi rambu oleh PSAK.
Akuntan
manajemen juga dapat berperan sebagai pengolah data
transaksi
dan kejadian untuk menghasilkan informasi sesuai dengan
kebutuhan
stakeholder, terutama pihak Manajemen, Dewan Komisaris
dan
Pemegang Saham. Terdapat satu fungsi lagi di Biro Akuntansi yaitu
Verifikator
Biro Akuntansi yang berfungsi untuk memverifikasi
kebenaran
formal dan kelengkapan setiap transaksi dana masuk atau
keluar
dan sekaligus melakukan entry masuk setiap transaksi keuangan
untuk
selanjutnya diolah oleh fungsi akuntansi yang lain menjadi laporan
keuangan
utama ataupun laporan manajemen.
3.
Fungsi Budgeting
Perusahaan
menganggap budgeting sebagai alat manajemen
yang
penting dalam merencanakan dan mengendalikan perusahaan.
Untuk
bisa efektif merencanakan operasi perusahaan maka budgeting
harus
disusun sedemikian rupa persis sebagaimana akuntansi bekerja.
Dengan
demikian dapat memudahkan pula dalam mengendalikan
sebelum
dan sesudah transaksi dilakukan karena secara singkat dan
mudah
dapat diperbandingkan dalam analisa variance.
4.
Fungsi Financing dan Tax
Pengelolaan
pendanaan dan pengaturan pemakaian dana akan lebih
efektif
dan efisien apabila dilakukan oleh personil yang mengerti dan
memahami
fungsi akuntansi. Kegiatan financing sangat erat kaitannya
dengan
fungsi akuntansi. Pengelolaan pembiayaan operasional ataupun
proyek
sangat bergantung kepada informasi akuntansi. Demikian pula
pengaturan
pemakaian dana dan pembayaran sangat bergantung
kepada
proses verifikasi kebenaran formal dan kelengkapan data yang
dilakukan
oleh Verifikator Biro Akuntansi.
Pengelolaan
pajak yang sangat erat kaitannya dengan setiap transaksi
yang
dikelola fungsi akuntansi dikelola oleh Biro Keuangan. Sebagian
besar
data transaksi berasal dari fungsi akuntansi, demikian pula
sebagian
besar informasi laporan keuangan yang dibutuhkan untuk
perhitungan
pajak berasal dari Biro Akuntansi.
5.
Fungsi Information Technology
Ada
yang berasumsi bahwa pada era teknologi informasi peran akuntan
manajemen
akan tergantikan oleh mesin atau oleh software aplikasi
akuntansi.
Ternyata hal ini tidaklah benar. Akuntan manajemen sangat
berperan
sebagai business analyst, set up sistem aplikasi dan
impelementator
sistem yang sudah disetup tersebut. Akuntan
manajemen
pula yang men-set up accounting trace, audit trail dan
sistem
pengendalian intern di dalam sistem aplikasi. Bahkan untuk
memelihara
dan mengembangkan sistem aplikasi personil Teknologi
Informasi
perlu berkonsultasi dengan akuntan manajemen sehingga
sistem
dapat terpeliharaa sesuai dengan sistem informasi akuntansi
yang
sudah terlebih dahulu di-setup dan sistem yang dikembangkan
dapat
diintegrasikan dengan sistem informasi akuntansi yang ada.
6.
Fungsi Marketing
Pricing
policy dapat ditentukan dengan berbagai metode. Produk PT
Pupuk
Kujang tidak semua dijual dipasar bebas sehingga tidak semua
harga
jual tidak didasarkan pada harga pasar. Oleh karena itu pricing
policy
yang digunakan adalah cost + fee, Harga Eceran Tertinggi (HET)
dikurangi
biaya lini IV tetapi tetap memperhatikan margin yang
diperoleh,
dan harga pasar yang disesuakan dengan kondisi penjualan.
Oleh
karenanya peran akuntan manajemen sangat menentukan dalam
kebijakan
penentuan harga dan dalam mengevaluasi margin penjualan
produk
untuk setiap produk dan setiap sektor penjualan.
LIKUIDITAS,
SOLVABILITAS, dan
RENTABILITAS
LIKUIDITAS
adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yg
segera harus dipenuhi.
Suatu perusahaan mempunyai “kekuatan membayar” belum
tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya.
Tingkat Likuiditas suatu
perusahaan dapat dipertinggi dengan jalan sbb :
n
Dengan utang lancar
tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva lancar.
n
Dengan aktiva
lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi utang lancar.
n
Dengan mengurangi
jumlah utang lancar bersama-sama dg mengurangi aktiva lancar,
dimanapenurunanaktivalancarharuslebihkecildaripenurunanutanglancar.
Dengan Cara :
n
Menjual Aktiva
tetap secara tunai.
n
Adanya setoran
modal pemilik berupa kas atau elemen aktiva lancar lainnya.
n
Adanya pinjaman
(utang) jangka panjang.
SOLVABILITAS
Kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi segala
kewajiban finansialnya pada saat perusahaan tersebut dilikuidasi.
Solvabilitas perusahaan dapat diukur dengan cara :
Membandingkan jumlah aktiva (total asset) dengan jumlah utang (baik jk pendek
maupun jk panjang).
RENTABILITAS/PROFITABILITAS:
Rentabilitas/profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan suatu perbandingan antara
laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Rumus :
L x 100 %
M
Bagaimana meningkatkan
RENTABILITAS ?
Untuk meningkatkan
RENTABILITAS, harus diketahui dulu faktor-faktor yang mempengaruhi
tinggi/rendahnya rentabilitas ekonomi / EARNING POWER.
Tinggi dan rendahnya EARNING POWER ditentukan oleh dua faktor:
n
PROFIT MARGIN, yaitu perbandingan antara “net operating
income” dengan “net sales” perbandingan dinyatakan dalam persentase.
n
TURNOVER OF OPERATING ASSETS (tingkat perputaran aktiva
usaha), yaitu kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode
tertentu. Turnover tersebut dapat ditentukan dengan membagi “NET SALES” dengan
“OPERATING ASSETS”.
RUANG LINGKUP MENEJEMENT KEUANGAN
Pembahasan tentang Ruang Lingkup Manajemen keuangan dapat dibagi sebagai berikut :
Pengertian Manajemen Keuangan
Fungsi Manajemen Keuanga
Tujuan perusahaan
Keputusana keuangan
Untuk lebih jelasnya akan di uraikan satu persatu dibawah ini.
Pengertian Manajemen Keuangan
Untuk memahami pengertian Manajemen Keuangan lebih di arahkan pada
kegiatan Pembelanjaan perusahaan sehingga dapat dikatakan Manajemen
Keuangan sama dengan Pembelanjaan Perusahaan. Perusahaan dalam
menjalankan bisnis memerlukan aset riil (real assets) dimana aset riil
tersebut berupa Tangible assets :
Aset lancar : Kas, Piutang, Persediaan
Aset tetap : mesin, pabrik, kantor, kendaraan
Dan dapat berupa aset tidak berwujud (Intangible assets) :
keahlian teknis (technical expertise) merk dagang (trade mark),
patent. Untuk mewujudkan aset riil tersebut memerlukan modal yang dapat
di peroleh bersumber pada
Liability : Utang Dagang, Obligasi, Utang bank
Equity : Modal setor, Saham, Laba Ditahan
Misalkan seorang pengusaha ingin mendirikan sebuah mini market maka
untuk dapat beroperasional dia harus mendirikan Toko (bangunan),
Peralatan minimarket, peralatan administrasi minimarket yang itu
merupakan aset tetap minimarket. kemuadian dia juga harus menyediakan
barang-barang kebutuhan sehari-hari yang akan dijual (persediaan) serta
dana kas untuk membiayai operasional minimarket yang ini merupakan aset
lancar minimarket tersebut. Untuk mewujudkan semua aset riil tersebut
pengusaha itu dapat membelanjainya dengan dana yang bersumber dari
modalnya sendiri (perseorangan) atau bermitra dengan koleganya untuk
membuat persekutuan modal (cv, firma dll) atau dapat juga mendirikan
perseroan terbatas (PT) untuk mengumpulkan modal dalam bentuk saham.
Pengusaha tersebut juga dapat membelanjai aset-aset riilnya dengan hutang misalnya melalui pinjaman bank, pinjaman suplier (utang dagang) atau menerbitkan obligasi jika badan usahanya berbentuk perseroan.
Dari penjelasan di atas dapat di definisikan Manajemen Keuangan
atau Pembelanjaan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan
usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan serta usaha untuk menggunakan
dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Seorang manajer
keuangan tidak hanya bertugas mencatat, membuat laporan, mengendalikan
posisi kas, membayar tagihan-tagihan dan mencari dana, tetapi lebih
dari itu harus mampu menciptakan kekayaan perusahaan melalui kegiatan
mencari sumber dana dan mengalokasikannya.
Dalam Manajemen keuangan kegiatan mencari sumber dana dapat di sebut
sebagai pembelanjaan Pasif dan kegiatan mengalokasikan dana disebut
sebagai pembelanjaan Aktif.
2. Fungsi Manajemen Keuangan
Berdasarkan pengertian Manajemen Keuangan di atas dapat di sebutkan 2 (dua) fungsi Manajemen Keuangan yaitu :
Fungsi Penggunaan Dana (Alokasi)
Fungsi Pendanaan (mencari sumber dana)
Dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut melibatkan fungsi-fungsi
lain (pemasaran, Produksi, Akuntansi dll). Baik fungsi pengalokasian dan
pendanaan didasarkan pada pertimbangan efesiensi dan efektivitas.
Prinsip Efesiensi dalam pengalokasian dana berorientasi bahwa penggunaan
dana pada investasi usaha diharapkan memberi keuntungan di masa yang
akan datang, sedangkan pada fungsi pendanaan bagaimana perusahaan
mencari sumber modal dengan prasyarat dan biaya yang semurah-murahnya.
3. Tujuan Perusahaan
Efesiensi dan efektifitas dalam pembelanjaan perusahaan harus
berorientasi pada tujuan perusahaan. Untuk itu perlu merumuskan dengan
benar apa yang menjadi tujuan mendirikan sebuah perusahaan. Dalam
beberapa teori disebutkan tujuan perusahaan adalah mencari keuntungan ,
pendapat tersebut tidak salah tetapi belum tepat, karena jika hanya
dirumuskan mencari keuntungan (Laba) maka banyak kekurangan yang
terdapat di dalamnya. Tujuan perusahaan yang hanya mengejar Keuntungan
akan mengabaikan faktor waktu dan ketidakpastian. Jika hanya mengejar
keuntungan tahun ini, perusahaan dapat mengurangi biaya-biaya penelitian
dan pengembangan produk, biaya-biaya pelatihan SDM dll, akibatnya
perusahaan memperoleh keuntungan tetapi untuk tahun-tahun mendatang
tidak dapat dipastikan apakah perusahaan memperoleh keuntungan.
Mengukur kinerja perusahaan dengan keuntungan saja tidak dapat
menggambarkan kinerja yang sesungguhnya, misalkan ada 2 perusahaan,
perusahaan A dengan modal 100 juta menghasilkan keuntungan 25 juta ,
perusahaan B dengan modal 80 juta menghasilkan keuntungan 20 juta. Maka
return perusahaan A = 25% (25 juta : 100 juta) dan return perusahaan B
= 25% (20 juta : 80 juta), dengan deemikian perusahaan B memiliki
kinerja yang lebih baik karena dengan modal yang lebih kecil
menghasilkan tingkat keuntungan yang sama dengan perusahaan A.
Tujuan perusahaan dalam konteks manajemen keuangan lebih di
arahkan pada menciptakan kekayaaan perusahaan atau maksimalisasi
kekayaan perusahaan. Meningkatkan kekayaaan perusahaan akan
meningkatkan kekayaan pemilik perusahaan. Seorang pengusaha yang membuka
Toko minimarket dengan modal 500 juta berharap nantinya nilai kekayaan
usahanya akan meningkat lebih dari 500 juta setelah beberapa tahun akan
datang.
Namun pertanyaannya apakah tujuan perusahaan itu hanya
mensejahterakan pemiliknya saja ? Perlu di ingat perusahaan melibatkan
pihak-pihak lain yang juga berperan dan berkepentingan terhadap
perusahaan. Apalagi jika perusahaan tersebut dengan skala usaha yang
lebih besar maka pihak-pihak lain dalam hal ini disebut sebagai stakeholders wealth juga perlu disejahterakan terlebih dahulu sebelum pemiliknya (share holder wealth) disejahterakan. Siapa saja yang disebut sebagai stakeholders wealth tersebut ? Antara lain sebagai berikut :
Manajemen dan Karyawan sebagai ujung tombak perusahaan, mereka di
sejahterakan dan dibayar dengan penghasilan yang sesuai dengan
pekerjaan dan kualifikasinya masing-masing. karyawan berkerja dengan
nyaman, tanpa tekanan dan berhak memperoleh promosi karir secara
berjenjang jika memiliki prestasi kinerja yang baik.
Kreditur, sebagai pihak lembaga pemberi pinjaman berhak mendapatkan
keamanan lancarnya kredit yang diberikan dan memperoleh pendapatan atas
kredit yang diberikan (bunga, bagi hasil dll)
Konsumen sebagai pengguna barang /jasa memperoleh kepuasan yang setimpal atas nilai yang dibayarkan pada produk yang dibeli.
Pemerintah, memperoleh pendapatan pajak atas keuntungan usaha perusahaan.
Masyarakat turut merasakan kesejahteraan dari keberadaan perusahaan
dalam bentuk pertanggungjawaban sosial perusahaan. Program pertanggung
jawaban sosial bisa berbentuk pendidikan (bea siswa), pengembangan UKM
(kredit lunak), bantuan bencana alam, produk yang ramah lingkungan dll.
Jika para stake holder di atas telah di sejahterakan, maka klaim
terakhir bagi perusahaan adalah mensejahterakan pemiliknya. Sebuah
resiko yang di beban pemilik perusahaan bahwa pemegang saham memperoleh
klaim terakhir dari keuntungan yang diperoleh perusahaan. Begitu juga
seandainya perusahaan di likuidasi, maka pembayaran hak didahulukan
dulu utntuk membayar kewajiban-kewajiban perusahaan seperti gaji
karyawan yang tertunda, utang-utang dengan pihak kreditur, utang-utang
lainnya baru setelah selesai semua, sisanya di bagi untuk pemilik saham,
sesuai proporsi kepemilikannya.
Namun jika pengeloaan perusahaan dilakukan dengan baik dan meningkatkan value perusahaan tentunya memberikan pengembalian (return)
bagi para investor yang lebih besar tingkatnya dibanding para stake
holder. Sesuatu yang lumrah karena investor berhadapan dan memiliki
resiko yang besar.
Untuk dapat memaksimalkan dan meningkatkan kekayaan perusahaan sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan keuangan Perusahaan.
4. Keputusan Keuangan
Keputusan keuangan yang tepat berdampak pada value perusahaan,
sebagaimana dijelaskan di atas bahwa keputusan keuangan harus
berorientasi pada tujuan perusahaan yaitu meningkatkan value
perusahaan. Ada 3 (tiga) keputusan keuangan yaitu sebagai berikut :
1. Keputusan Investasi
Keputusan investasi adalah masalah bagaimana manajer keuangan harus
mengalokasikan dana ke dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat
mendatangkan keuntungan di masa yang akan datang. Bentuk, macam, dan
komposisi dari investasi dari investasi tersebut akan mempengaruhi dan
menunjang tingkat keuntungan di masa depan. Keuntungan di masa depan
yang diharapkan dari investasi tersebut tidak dapat diperkirakan secara
pasti. Oleh karena itu investasi akan mengandung resiko atau
ketidakpastian. Resiko dan hasil yang diharapkan dari investasi ini
akan mempengaruhi pencapaian tujuan, kebijakan maupun nilai perusahaan
2. Keputusan Pendanaan
Keputusan pendanaan ini sering disebut sebagai kebijakan struktur
modal. Pada keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk
mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi dari sumber-sumber dana yang
ekonomis bagi perusahaan guna membelanjai kebutuhan-kebutuhab investasi
serta kegiatan usahanya.
3. Keputusan Dividen
Dividen merupakan bagian keuntungan yang dibayarkan oleh perusahaan
kepada para pemegang saham. Oleh karena itu dividen ini merupakan
bagian penghasilan yang diharapkan oleh pemegang saham. Keputusan
dividen merupakan keputusan manajemen keuangan untuk menentukan ;
deviden tunai, stabilitas deviden, dividen saham (stock deviden), pemecahan saham (stock split), penarikan kembali saham yang beredar (repurchase stock), yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.
SUMBER :
https://dariwulandari.blogspot.co.id/2015/09/peran-akuntansi-manajemen-dalam.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_akuntansi
http://stiebanten.blogspot.co.id/2011/04/peran-akuntan-manajemen-di-perusahaan.html
http://wahyuadiprasetyo.blogspot.co.id/2013/11/likuiditas-solvabilitas-dan-rentabilitas.html
https://financialtrik.wordpress.com/2013/09/19/ruang-lingkup-manajemen-keuangan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar